Widya Kartika » Cara Cerdas Menyiapkan Biaya Dan Membagi Waktu Ketika Kuliah Sambil Bekerja

Oleh karena itu, tidak ada salahnya kamu menyempatkan waktumu untuk hal-hal tersebut selagi tidak ada kegiatan, misalnya saat akhir pekan. Salah satu hal yang sering dilupakan oleh mahasiswa, terutama yang kerap berkegiatan di luar adalah hal-hal yang perlu dilakukan di rumah. Misalnya, beberes rumah atau kamar, atau mengasah keterampilan sehari-hari seperti memasak.

Bekerja tanpa menganggu waktu belajar

dengan begitu, kamu tidak akan pernah lupa untuk bisa berhemat dan menabung. Umumnya, jika sudah lulus kuliah, maka kamu ingin lebih mandiri dengan menyiapkan segala keperluan kamu sendiri dan merasa sungkan jika orang tua membantu kamu. Saat orang tua memberi uang saku, tidak masalah, kamu bisa menerimanya dan menggunakan uang tersebut untuk keperluan sekaligus menabung. Mungkin setelah lulus kamu tidak lagi terlalu banyak pengeluaran besar, seperti uang skripsi, fotokopi bahan kuliah, uang wisuda, uang praktik dan lain sebagainya.

Lakukan dengan cara yang sama untuk jadwal kerja Anda, atur jadwal yang sesuai dengan jadwal kuliah Anda. Atur semua mulai dari jam kerja, kapan mengerjakan tugas dan berapa lama untuk mengerjakannya. Penerima beasiswa dari Universitas Paramadina untuk program Magister jurusan Hubungan Internasional ini dengan tegas mengatakan jam kerja harus digunakan seketat mungkin.

Banyak anak kuliahan mencoba mengisi kekosongan jadwal mereka dengan berorganisasi, nongkrong dengan teman-teman ataupun mencoba kuliah sambil kerja. Sebaiknya pilih jurusan kuliah yang sesuai dengan bidang pekerjaan yang Anda tekuni. Bila Anda ahli maka jenjang karir pun akan lebih mudah diperoleh. Tak ada larangan bekerja sambil kuliah ataupun kuliah sambil kerja, yang penting Anda dapat mengatur waktu sehingga kedua kegiatan ini tidak bertabrakan dan dapat berjalan lancar.

Caranya dengan kamu menentukan apa saja kebutuhan yang wajib untuk kamu penuhi. Kebutuhan-kebutuhan semacam itu harus kamu masukan pada skala prioritas paling utama. Tidak dapat kita pungkiri bahwa UMR atau UMK untuk beberapa kota di Indonesia masih ada yang berada di bawah 2 Juta.